

Posted by
BLOG AWAK KAPAL SELAM
at
17.06
0
comments

Posted by
BLOG AWAK KAPAL SELAM
at
21.26
0
comments
International Submarine Escape and Rescue Liaison Office (ISMERLO) dibentuk pada tahun 2003 dengan NATO dan Submarine Escape and Rescue Working Group (SMERWG) sebagai penggagas sebagai upaya untuk membentuk suatu koordinasi secara global dalam pelaksanaan operasi SAR Kapal Selam.
Kebutuhan akan koordinasi internasional didasari atas berbagai musibah kecelakaan Kapal Selam, sebelum terjadinya kecelakaan atas Kapal Selam Rusia K-141 Kursk. Namun demikian, kejadian KURKS memberikan dorongan yang kuat dalam pembentukan ISMERLO. Kecelakaan KURSK,menggarisbawahi musibah Kapal Selam di masa damai, menjadikan kebutuhan akan lembaga internasional sebagai wadah koordinasi untuk pelaksanaan SAR dan juga respon yang cepat apabila musibah Kapal Selam benar-benar terjadi. Hal ini menjadi tugas ISMERLO.
Lembaga ini terdiri dari para tim ahli SAR Kapal Selam internasional yang bermarkas di Norfolk, Virginia, USA. Tujuan dari ISMERLO adalah untuk menetapkan prosedur SAR Kapal Selam yang sah dan menjadikannya sebagai standar internasional dengan koordinasi dan konsensus diantara negara-negara pengguna Kapal Selam. Konsultan pelatihan, pengadaan serta pemeriksaan dan layanan monitoring juga merupakan tugas yang dilaksanakan oleh organisasi ini. Alat utama yang disediakan organisasi ini dalam koordinasi adalah koordinasi via web. Websitenya adalah www.ismerlo.org yang berisi segala sumber informasi tentang Submarine Escape and Rescue (SMER) dan memfasilitasi panggilan cepat internasional apabila terjadi kecelakaan Kapal Selam.
SMERWG adalah otorita ISMERLO. Seluruh Negara pengguna Kapal Selam amat disarankan untuk menjadi anggotanya. SMERWG meliputi aspek teknik dan prosedur yang berhubungan dengan berbagai aspek dlam berbagi informasi dan membuat system SAR Kapal Selam yang tetap. Juga merupakan suatu forum dimana suatu permasalahan di kemukakan, dilatihkan dan pelajaran yang didapat didiskusikan, dan undangan untuk menghadiri pelatihan tersebut dibuat. Ini merupakan tempat para berkumpulnya para ahli di bidang ini dan merupakan kesempatan untuk menjalin hubungan dengan mereka.
Posted by
BLOG AWAK KAPAL SELAM
at
23.14
0
comments
Kapal Selam tankinya bocor
Timbul tenggelam di perbatasan
Tanki Kapal Selam bocor?
Ya iyalah. Kalo gak bocor mana bisa Kapal Selam nyelam.
Sebuah lagu yang biasa dinyanyikan oleh "sodara dekat" buat nyindir Kapal Selam.
Tapi kalo mereka tau kalo tanki Kapal Selam emang dibuat "bocor", kira2 mereka masih berani nyanyiin lagu itu gak ya?
Hmmm...setelah membiarkan tanki "bocor" buat submerge yang cukup lama, akhirnya tanki "bocor" itu ditambal supaya kita2 ini bisa relax dikit. Mancing2 dululaaahhhh....!!!
Posted by
BLOG AWAK KAPAL SELAM
at
13.57
0
comments
Kemampuan bertahan diri seorang manusia terhadap lingkungan sekitar yang mengancam bisa berasal dari dirinya yang merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa atas disertakannya akal dalam penciptaan manusia atau bisa juga bertambah dari proses berlatih maupun kebiasaan bersentuhan dengan alam lingkungan sekitarnya. Lingkungan sekitar tersebut bisa saja habitat asli maupun habitat asing. Sea dan Jungle Survival merupakan dua contoh mekanisme bertahan manusia terhadap lingkungan sekitar yang bukan merupakan habitat aslinya.
Lingkungan laut yang bukan merupakan habitat asli manusia memiliki karateristik yang musti dipahami dan dimengerti oleh manusia. Manusia diberi akal dan kemampuan bukan ditujukan untuk melawan kehendak alam, melainkan agar manusia dapat mengoptimalkan potensi yang ada di dirinya dalam rangka bersentuhan dengan alam. Man Over Board (terjatuh ke laut), NBCD, kapal tenggelam serentetan resiko yang mungkin terjadi di laut lepas pada saat kapal selam melaksanakan operasi.
Satuan Kapal Selam Koarmatim sebagai satuan pembina materil dan personel kapal selam menyadari benar arti pentingnya kemampuan bertahan hidup manusia terhadap lingkungan sekitar yang bukan merupakan habitat aslinya, apalagi lingkungan di daerah musuh. Hal inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya Submarine Sea and Jungle Survival Exercise atau Survivex yang wajib diikuti oleh seluruh personel Satuan Kapal Selam.
Dalam hal pelaksanaan Survivex, Satuan Kapal Selam bekerja sama dengan Batalyon Intai Amphibi dalam hal Pelatih dan daerah latihan. Pada awal diselenggarakannnya Survivex, daerah latihan mengambil tempat di Pusat Latihan Tempur Marinir Karang Tekok, Banyuwangi. Namun seiring berjalannya waktu dan pergantian pimpinan, daerah latihan sekarang mengambil tempat di Pusat Latihan Tempur Marinir Lampon, Banyuwangi, tepat digodoknya prajurit-prajurit khusus Marinir Intai Amfibi. Satuan Kapal Selam patut berbangga karena dapat melaksanakan Survivex di Puslatpur Lampon, karena selain pasukan khusus Intai Amfibi Marinir tidak ada pasukan Marinir lain yang melaksanakan latihan di tempat ini.
Latihan dilaksanakan selama 2 minggu, yaitu 1 minggu pra survivex dan teori yang bertempat di Pangkalan Kapal Selam Koarmatim, dan 1 minggu praktek di Puslatpurmar Lampon.
Teori yang diberikan berupa materi-materi yang akan dilaksanakan dalam praktek di Lampon nantinya, berupa renang laut, dayung sekoci karet, menembak pistol dan senjata laras panjang, tali-temali, rappelling, dan mountaineering.
Sedangkan skenario latihan selama di Lampon adalah sebagai berikut :
Diskenariokan kapal selam sedang melaksanakan Operasi Reconnaisance di perairan musuh lebih kurang 2 mil dari garis pantai. Pada saat pelaksanaan operasi tersebut, kapal selam mengalami kedaruratan yang tidak dapat diatasi dan yang pada akhirnya Komandan kapal selam memerintahkan untuk melaksanakan peran peninggalan. Kedua liferaft kapal selam berhasil diluncurkan dan seluruh personel kapal selam berhasil keluar dari kapal dengan menggunakan Escape Suit Mk-10. Setelah seluruh personel berada di permukaan air, seluruhnya segera naik ke atas 2 liferaft yang telah mengembang dan menghabiskan malam dengan bekal seadanya. Kemudian pada saat sebelum matahari terbit, seluruh personel segera meninggalkan liferaft dan berenang menuju pantai.
Ilustrasi diatas merupakan dua dari beberapa materi survivex, yaitu bertahan hidup di laut diatas liferaft dengan bekal minim dan renang laut. 
Materi selanjutnya adalah kompas siang dan kompas malam, dimana personel dibagi menjadi beberapa tim yang diberi persoalan untuk mencapai satu titik dengan hanya berbekal kompas dan seutas tali sebagai penghitung jarak. Apabila pengukuran kompas dan jarak dilaksanakan dengan teliti, maka tim-tim yang diberikan persoalan akan mendapatkan jawabannya di titik akhir. Setelah materi kompas selesai, kembali materi yang dilaksanakan adalah problem laut,yaitu renang menembus ombak, surf observation, dayung menembus ombak dan raid menggunakan perahu karet. Materi ini diberikan sebagai bekal apabila personel yang terdampar di daerah lawan akan dijemput oleh pihak kawan. Apabila dari darat mereka memiliki perahu karet, maka mereka harus memahami betul prosedur Surob (Surf Observation) agar dapat mengendarai perahu karet dengan menembus ombak dengan aman. Namun apabila mereka diharuskn berenang menuju kapal evakuasi, maka mereka harus benar-benar menguasai renang menembus ombak untuk kemudian dilaksanakan raid menggunakan perahu karet.
Setelah problem laut selesai, para pelaku dihadapkan dengan persoalan yang lebih berat, yaitu problem hutan. Pada problem hutan ini, para awak KS melaksanakan lintas medan menuju hutan untuk melaksanakan materi berbivak, prosedur membuat jebakan untuk binatang, mengesan jejak, dan bagaimana cara membuat api dari kayu. Juga dilaksanakan materi cara menangkap ular. Semua materi ini adalah sebagai bekal apabila para awak KS dihadapkan pada kondisi di hutan dengan bekal seadanya, mereka dapat tetap bertahan hidup dengan sumber makanan yang terdapat di hutan.
Materi berikutnya adalah hiking, mendaki pegunungan Tumpang Pitu tanpa bekal makanan dan minuman. Sumber air yang diijinkan dikonsumsi hanyalah yang berasal dari akar pepohonan. Kemudian di puncak gunung Tumpang Pitu, para awak KS melaksanakan berbivak dan bermalam disana untuk kemudian pada pagi harinya menuruni pegunungan Tumpang Pitu sekaligus melaksanakan materi mengesan jejak. Tiba di kaki gunung Tumpang Pitu pada sore hari, para awak KS melanjutkan materi Jurit Malam.
Materi terakhir yang dilaksanakan adalah materi kemampuan perorangan, yaitu lempar kapak dan pisau, rappelling dan mountainaring serta menembak pistol dan senjata laras panjang. Juga dilaksanakan pengenalan tentang bahan peledak dan demolisi. Setelah seluruh materi dilaksanakan, para awak kapal selam berhak meggunakan pin Submarine Sea and Jungle Survival sebagai tanda bahawa awak kapal selam telah mampu bertahan hidup di laut dan di hutan apabila terjadi kedaruratan pada kapal selam.
Posted by
BLOG AWAK KAPAL SELAM
at
13.12
0
comments
Posted by
BLOG AWAK KAPAL SELAM
at
22.08
0
comments
Posted by
BLOG AWAK KAPAL SELAM
at
22.04
0
comments
Pada sekitar tahun 1930 jumlah pelaut Indonesia sudah cukup banyak, diantaranya 4.800 orang di KPM dan 2.400 orang di Koninklijke Marine (KM). Mereka inilah yang nantinya merintis usaha pembangunan di bidang kelautan.
Sejalan dengan perkembangan pergerakan nasional Indonesia, pemuda pelaut yang bekerja di kapal-kapal Belanda berusaha membentuk berbagai organisasi kelautan antara lain, Inlandsche Marine Bond (IMB) dan Christtelijke Inlandsche Marine Bond (Ch IMB). Melalui organisasi ini para pelaut Indonesia berhasil membangkitkan kesadaran nasional serta mempertebal semangat kelautan.
Seperti telah dikemukakan, bahwa pada masa penjajahan Belanda pemuda Indonesia telah mendapat kesempatan mengikuti pendidikan kelautan yang masih terbatas. Pembatasan ini disebabkan Belanda khawatir apabila para pemuda yang mendapat pendidikan itu menjadi besar potensi militernya, sehingga dapat membahayakan kekuasaannya di Indonesia. Kesempatan pendidikan yang terbatas inilah yang dimanfaatkan oleh D. Ginagan putra kelahiran Sibolga, Sumatera Utara 23 April 1918 untuk belajar di negeri Belanda atas biaya sendiri.
Pada tahun 1937 D.Ginagan pergi ke Belanda untuk memperdalam pendidikan kepelautan, ia masuk Gemeentelijke Zeevaartschool di Den Helder mengambil jurusan pelaut selama 3 tahun. Setelah lulus kemudian memperdalam pengetahuannya pada jurusan mesin di Groningen selama 2 tahun. Setelah selesai pendidikan ini, D.Ginagan tinggal di negeri Belanda sampai 1946. Selama tinggal di negeri Belanda, D. Ginagan bekerja pada perusahaan perkapalan Belanda sebagai Stuurman, Pada tanggal 10 Mei 1940 sebelum Jerman menyerang Belanda, D.Ginagan merencanakan untuk berangkat ke Amerika Serikat dengan kapal Belanda. Namun karena Jerman menyerang Belanda rencana tersebut dibatalkan.
Selama tinggal di negeri Belanda D. Ginagan ikut aktif berjuang untuk kepentingan bangsa Indonesia baik sebelum diproklamirkan kemerdekaan Indonesia manpun sesudahnya. Karena aktifitasnya dalam membela kepentingan Indonesia, pada tahun 1946, D. Ginagan diusir dari negeri Belanda, kemudian ia kembali ke Indonesia pada bulan Desember 1946.
Melihat situasi perjuangan yang banyak memerlukan tenaga-tenaga terampil untuk membantu meningkatkan kemampuan tentara kita, setelah sampai di tanah air, D. Ginagan melaporkan ke Kementerian Pertahanan dan sesuai keahliannya ditempatkan di Kementerian Pertahanan bagian Angkatan Laut dengan status sebagai pegawai sipil. Selama menjadi pegawai sipil inilah timbul ide/gagasan untuk membuat kapal selam.
Selama ini banyak yang mengira bahwa perkembangan kapal selam di TNI AL dimulai sejak tahun 1958, yaitu dengan adanya proyek pengambilan kapal di Polandia dalam rangka Trikora, di bawah pimpinan Laksamana O.B. Syaaf. Sebenarnya pemikiran atau gagasan untuk membuat kapal selam sendiri di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1946.
Banyak orang di kalangan TNI AL sendiri yang tidak tahu, siapa sebenarnya tokoh yang mempunyai gagasan untuk membuat kapal selam di Indonesia. Tokoh tersebut adalah warga TNI AL sendiri yang pada waktu itu rnasih berstatus pegawai sipil pada Kementetian Pertahanan Bagian Angkatan Laut yaitu, D. Ginagan. Inspirasi ide tersebut timbul setelah melihat pameran kapal selam yang dikendalikan oleh satu orang (Eenpersoons D/tikboof) di Groningen, Belanda pada tahun 1946. Kapal ini adalah kapal yang dipakai oleh Jerman pada waktu Perang Dunia II, dan pada waktu sedang dikembangkan oleh Jerman. Untuk melaksanakan ide tersebut, D. Ginagan segera mengajukan permohonan kepada Kementerian Pertahanan, rupanya gagasan itu disetujui. Segera setelah ijin disetujui, ia menghubungi Penataran Angkatan Laut (PAL) sekarang PT PAL dan pabrik besi/Perbi di Yogyakarta. Dalam melaksanakan ide tersebut, D. Ginagan banyak dibantu oleh M. Susilo pegawai Perencana Perkapalan terutama dalam pembuatan gambar (design). Pembuatan kapal -selam ini dimulai sekitar bulan Juli 1947 di Perbi Yogyakarta dengan anggaran ± 35.000 (ORI).
Data kapal selam yang tidak berperiskop ini adalah sebagai berikut: panjang 7 m, lebar 1 m dan DWT 5 ton. Kapal selam tersebut dilengkapi dengan sebuah torpedo kapal terbang yang banyak terdapat di lapangan terbang Maguwo Yogyakarta, peninggalan Jepang dengan panjang 5 meter. Alat penggerak kapal tersebut sebuah mesin mobil Fiat berkekuatan 4 PK, sedangkan sebagian badan kapal digunakan untuk tangki bensin.
Kapal selam ini adalah kapal selam mini yang dikemudikan oleh satu orang dan mampu meluncurkan torpedo dengan jarak tembak lebih kurang 1 - 1½ mil yang direncanakan untuk menerobos blokade laut Belanda yang pada waktu itu telah menutup sebagian besar perairan Indonesia. Setelah kapal tersebut selesai dibuat, lalu diadakan uji coba di Kalibayem, Yogyakarta yang dihadiri oleh masyarakat Yogyakarta dan pejabat-pejabat penting pemenntah seperti, Menteri Pertahanan dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Presiden Sokarno sendiri sempat rneninjau kapal selam tersebut sebelum diadakan uji coba di Kalibayem. Dalam percobaan tersebut yang berjalan selama 1 jam kapal dikendalikan sendiri oleh D. Ginagan dan dapat berlayar namun belum bisa menyelam, karena belum ada baterainya.
Keberhasilan uji coba ini membawa dampak yang sangat positif bagi perjuangan bangsa Indonesia, terutama dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air dan rela berkorban demi untuk tetap tegaknya kemerdekaan Indonesia. Reaksi yang timbul dari pemenntah Belanda terhadap uji coba kapal selam ini sangat meremehkan sekali. Hal tersebut dapat diketahui dari siaran radio Belanda yang bernada penghinaan. "Wah, orang Indonesia di Kali membuat kapal selam dari drum".
Sebetulnya ungkapan dari pihak Belanda terhadap keberhasilan uji coba ini merupakan bukti kekhawatiran pihak Belanda akan kemampuan bangsa Indonesia dalam mempersenjatai tentaranya. Bahkan dampaknya perjuangan melawan Belanda semakin berkobar di seluruh wilayah Indonesia.
Pada waktu agresi Belanda II kapal selam ini masih dalam tarap perbaikan, kemudian D. Ginagan mendapat tugas mendampingi KSAL ke Aceh. Ketika kembali dari Aceh dalam rangka persiapan pembentukan Staf Angkatan Laut RI di Aceh, kapal selam mini tersebut telah ditarik kembali ke pabrik besi Perbi. Namun karena pada waktu itu situasi perjuangan semakin mernanas akibat agresi Belanda II dan semuanya sibuk berjuang menjadikan perbaikan terhadap kapal selam ini terhenti. Sejak tahun 1948, D. Ginagan masuk Angkatan Laut Republik Indonesia dengan pangkat Kapten serta pensiun tanggal 31 Agustus 1961 dengan pangkat Letnan Kolonel.
Posted by
BLOG AWAK KAPAL SELAM
at
15.38
0
comments